Digital clock

Jumat, 10 Agustus 2012

analisi puisi sajadah panjang karya Taufik Imail


Puisi “Sajadah Panjang” adalah pernyataan Taufiq yang mengharukan tentang pengabdiannya pada Tuhan: Ada sajadah panjang terbentang/ Dari kaki buaian/ Sampai ke tepi kuburan hamba/ Kuburan hamba bila mati// Ada sajadah panjang terbentang/ Hamba tunduk dan sujud/ Di atas sajadah panjang ini/ Diselingi sekedar interupsi/ Mencari rezeki, mencari ilmu/ Mengukur jalanan seharian/ Begitu terdengar suara azan/ Kembali tersungkur hamba// Ada sajadah panjang terbentang/ Hamba tunduk dan rukuk/ Hamba sujud dan tak lepas kening hamba/ Mengingat Dikau/ Sepenuhnya.//
Metafora “sajadah panjang” adalah metafora yang jelas mendekatkan kita pada simbol Islam. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah kenyataan bahwa metafora itu merupakan simbol pengabdian total. Melalui metafora itu, Taufiq hendak melukiskan dirinya sendiri sebagai seorang yang selalu “tunduk dan sujud” di hadapan Tuhan.
Kesibukan duniawi memang tak ditinggalkan sama sekali. Cuma, kesibukan itu hanyalah semacam “interupsi” yang sejenak saja. Begitu selesai urusan tersebut, pengabdian melalui “sajadah panjang” itu akan kembali dilanjutkan. Di sini, agama lagi-lagi tak berperan sebagai sekadar “latar belakang”. Agama—setidak-tidaknya mewujud dalam nilai-nilainya—dalam puisi tersebut adalah pokok soal terpenting.
Melalui “Sajadah Panjang”, Taufiq sebenarnya sedang melakukan semacam pengingatan pada para pembaca puisinya tentang Tuhan. Tendensi ini, sebenarnya sama dengan pengakuan Taufiq Ismail sendiri. Tahun 1984, ia memang pernah membuat pengakuan bahwa karya sastra yang ditulisnya adalah “sebuah zikir”.8
Artinya, melalui puisi-puisi yang ditulisnya, Taufiq hendak membawa para pembacanya mengingat Sang Pencipta. Prinsip yang demikian, menurutnya, dilandasi keinginan agar puisi yang ia buat masuk sebagai kategori “kesenian yang mengekspresikan keislaman”.
Tapi pengingatan Taufiq tak berarti bahwa dia hanya membuat puisi tentang Tuhan saja. Sebaliknya, Taufiq justru lebih banyak membuat puisi berdasar realitas sosial yang ia hadapi. Justru dengan membahas persoalan-persoalan sosial dalam puisinya, secara tak langsung Taufiq ingin membawa pembacanya menyadari kehadiran Tuhan.
Dalam sebuah kesempatan lain, Taufiq pernah mengatakan bahwa tujuannya menciptakan puisi adalah untuk beramal saleh.9 Baginya, hidup ini adalah sebuah sajadah yang terbentang dari kaki buaian sampai tepi lahat. Kegiatan utama dalam sajadah itu adalah shalat. Kegiatan lain hanya semacam penyela dari shalat. Tapi, yang penting pula adalah bagaimana mentransformasikan kegiatan sehari-hari agar menjelma menjadi derivasi dari shalat.
Akherat, itulah tujuan kesenian Taufiq. Cuma, mencapai akherat bukan berarti meninggalkan dunia. Maka, berbeda dengan kecenderungan puisi sufistik yang menekankan pada ekspresi religius saat melakukan interaksi personal dengan Tuhan serta berusaha menghindari narasi tentang dunia, puisi Taufiq justru menggunakan dunia sebagai kendaraan menuju Tuhan.
Bagi Taufiq, tugas manusia sebagai khalifah di dunia menunjukkan bahwa manusia sama sekali tidak boleh meninggalkan dunia. Melalui kehidupan sosial, yaitu interaksi manusia dengan sesamanya dan dengan makhluk Tuhan yang bukan manusia, seorang manusia bisa berangkat melakukan pendekatan terhadap Tuhan. Di sini, kecenderungan puisi Taufiq sebagai zikir sosial makin terasa.
Salah satu interaksi sosial yang juga bisa dianggap sebagai jalan pendekatan kepada Tuhan adalah pembelaan terhadap orang-orang yang lemah. Taufiq Ismail menyadari hal yang demikian. Ia menyadari bahwa usaha membela kaum tertindas dari kezaliman yang menimpa mereka bukan hanya sebuah kerja demi kemanusiaan, tapi sekaligus juga demi keimanan dan pengabdiannya pada Tuhan.








Ada sajadah panjang terbentang
dari kaki buaian
sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
di atas sajadah yang panjang ini
diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan rukuk
hamba sujud tak lepas kening hamba
mengingat dikau sepenuhnya.

*Catatan: tanda baca dan kapitalisasi huruf mungkin tidak tepat karena puisi ini didapat dari internet.
 Taufik Ismail memang banyak menulis puisi religius dan kritik sosial. Saya menyukai puisi ini karena syairnya yang sangat simbolik, lepas dari fakta bahwa puisi ini memang dimusikalisasi dengan manis oleh Bimbo.
Coba simak baris-baris ini:

ada sajadah panjang terbentang
dari kaki buaian
sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati

Sajadah itu terbentang dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan. Tentu saja kalau kita membayangkan sajadah secara fisik, ini menjadi hal yang aneh bahkan konyol. Gimana cara ada sajadah terhampar dari buaian di rumah kita sampai kuburan di kampung sebelah misalnya.

Tapi kaki buaian di sini menyimbolkan kelahiran, sementara kuburan menyimbolkan kematian. Jadi sajadah, yang berarti adalah ibadah, ketundukan kita pada Tuhan, berlaku dari kita lahir hingga kita mati.

Syair yang menurutku juga sangat “romantis” adalah ini:
mencari rezeki mencari ilmu
mengukur jalanan seharian

Mengukur jalanan seharian! Aduh rasakan deh,. betapa lelahnya, mungkin juga bosan, panas berpeluh. Ini gambaran yang sangat mengena bagaimana kita bisa sangat capai dengan urusan duniawi. Dan saat itulah kita tunduk dan sujud, yang disebut oleh Taufik sebagai sekadar interupsi. Bukankah kita semua memang butuh interupsi?


PEMBACAAN puisi religi oleh maestro penyair Indonesia, Taufiq Ismail, mengiringi pembukaan pengajian malam Selasa Yayasan Abdul Gaffar Ismail, di gedung pengajian KH Abdul Gaffar Ismail, Jalan Bandung 60 Pekalongan, Senin (28/6) malam.
Ratusan orang yang memenuhi gedung pengajian itu, serasa larut dalam emosi sang penyair, tatkala Taufiq membacakan tak kurang dari 8 puisi religi hasil karyanya.
Taufiq mengawalinya dengan membaca puisi berjudul 'Sajadah Panjang', sebuah karya terkenal yang ia cipta pada tahun 1974. Puisi ini, kata dia, selanjutnya dijadikan Sam Bimbo menjadi sebuah lagu religi yang terkenal hingga sekarang.
"Waktu ingin membuat puisi itu, saya berkeinginan untuk mencipta sebuah perlambang, dengan kata-kata yang gampang disusun menjelaskan tentang sholat. Akhirnya, sampai pada gambaran sebuah sajadah yang sangat panjang," papar Taufiq di depan ratusan pengunjung pengajian.
Kata Taufiq, hal itu menggambarkan kehidupan, yang mana sajadah panjang itu diawali dari buaian sang ibu, lalu pada sholat, dari Subuh hingga Isya, terus menerus hingga akhir hayat. "Kalau disatukan, sajadah tersebut akan sangat panjang," ungkapnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar