Jumat, 10 Agustus 2012

Belajar Kognitif


Belajar kognitif
Dalam keterampilan intelektual khusus yang mempunyai kepentingan belajar dan berfikir ialah strategi kognitif. Teori kognitif merupakan teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, memberikan, membayangkan, berpikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognitif menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek kognisi seseorang (Hilgard, 1956 dan Chaplin, 1988).
Belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu memperolehinformasi baru, transformasi, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Dahar, 1989). Informasi baru merupakan penghalusan informasi sebelumnya yang kemudian ditransformasikan. Pada tahap transformasi, seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru, mungkin melalui cara ekstrapolasi dan atau bentuk lain. Pada proses terakhir, ada pengujian, ada pengujian cara memperlakukan pengetahuan apakah sesuai dengan tugas.
Sebagai psikolog, Bruner lebih memperhatikan perkembangan kemampuan mental. Berkaitan masalah pengajaran, ia mengemukakan dalil tentang intruksi, yaitu preskriftif dan normatif. Preskriftif berhubungan dengan mekanisme penguasaan ,pengetahuan, keterampilan, dan teknik pengukuran ata evaluasi hasil, sedangkan normatif berhubungan dengan menguasai penentuan dan kondisi tujuan (Bower dan Hilgard, 1981). Teori intruksi dapatdikemukakan sebagai berikut:
1.      Kecenderungan belajar, yaitu adanya pengalaman da konteks ang mendorong seseorang belajar
2.      Struktur pengetahuan, yaitu tubuh pengtahuan terstruktur sehingga memudahkan kesiapan meraihnya.
3.      Rangkaian keteraturan, yaitu keberadaan materi belajar dalam urutan yang lebih efektif.
4.      Reinforcement atau peneguhan, yaitu adanya hadiah yang bergerak dari ektrinsik menuju intrinsik.
Melalui teori instruksi, setiap subjek dapat belajar efektif melalui bentuk-bentuk kognitif sederhana pada tiao perkembaangan anak dan hal itu disebut amphorist.
Dalam suatu dekade, teori intruksi Bruner mulai di kembangkan oleh para ahli psikologi dengan berbagai pendekatan. Walter (1978) memaparkan sembilan langkah dalam model pendekatan sistem intruksional, yaitu :
1.      Mengidentifikasi tujuan instruksional
2.      Menganalisis instruksional
3.      Mengidentifikasi karakteristik prilaku peserta
4.      Menuliskan tujuan perbuatan tertentu
5.      Mengembangkan criterian-referenced-test
6.      Mengembangkan strategi instruksional
7.      Mengembangkan dan mengadakan seleksi instruksional
8.      Membuat desain dan melaksanakan evaluasi formatif
9.      Merevisi intruksional
Tugas pertama yangdlakukan anak ialah meneruskan sosialisasi dengan anak lain, atau orang dewasa, tanpa pertentangan bahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan keramahan dan konsiderasi pada anak itu.
Tugas ke dua ialah belajar menggunakan simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya, seperti : gambar, huruf, angka, diagram dan sebagainya.
Ini sebagai tugas intelektual (membaca, menulis, berhitung dan sebagainya). Bila anak sekolah sudah dapat melakukan tugas ini, berarti dia sudah mampu belajar banyak hal dari yang mudah sampai yang amat kompleks.
Berbagai macam strategi kognitif
            Walau pun siswa menggunakan strategi-strategi khusus dalam melaksanakan tugas-tugas belajar, untuk memudahkan, strategi-strategi kognitif itu dokelompokan sesuai dengan fungsinya. Pengelompokan itu disarankan oleh weinstein dan Mayer (1996).
a.       strategi-strategi menghafal (rehearsal strategies)
b.      strategi-strategi elaborasi
c.       strategi-strategi pengaturan (organizing strategies)
d.      strategi-strategi meta kognitif
e.       strategi-strategi afektif
Gagne menyatakan pula bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat di bagi menjadi lima ketegori, yang disebut “the domains of learning” yaitu :
1.      keterampilan motoris (motor skill)
Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan, misalnya lempar bola, maen tenis, mengemudi mobil, mengetik huruf R.M dan sebagainya.
2.      Informasi verbal
Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar, dalam hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu ini perlu inteligensi.
3.      Kemampuan intelektual
Manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan simbol-simbol. Kemampua belajar cara inilah ang di sebut “ kemampuan intelektual”, misalnya membedakan huruf M dan N, menyebut tanaman yang sejenis.
4.      Strategi kognitif
Ini merupakan organisasi keterampilan yang internl (internal organized skill) yang perlu untuk belajar mengingat dan berfikir. Kemampuan ini berbeda dengan kemampuan intelektual, karena di tujukan ke dunia luar, dan tidak dapat dipelajari hanya dengan berbuat satu kali serta melakukan perbaikan-perbaikan secara terus menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar