Digital clock

Kamis, 09 Agustus 2012

FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA

BAB II  PEMBAHASAN

A.    Pengertian berbicara dan keefektifan berbicara

Semua orang memiliki kemampuan berbicara. Akan tetapi, jika seseorang dituntut untuk berbicara didepan umum dengan situasi yang formal, mereka mengalami kesulitan. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian.
Tampil berbicara dengan hanya mengandalkan teknik rhetorika, nampaknya tidaklah cukup untuk menjadi seorang pembicara yang handal. Karena bagimanapun hebatnya daya pesona yang ditimbulkan oleh seorang pembicara dalam penampilannya tanpa didukung oleh efektifitas pembicaraan yang dibawakannya, maka apa yang disampaikannya itu akan berlalu begitu saja tanpa menimbulkan kesan yang mendalam, atau dengan kata lain efek pesan yang disampaikannya itu hanya bertahan sampai selesainya pembicaraan, begitu pembahasan selesai maka selesai pulalah segalanya.
  Untuk itulah maka disamping seorang pembicara perlu memiliki rhetorika yang baik, ia juga perlu menguasai apa yang disebut berbicara yang efektif. Berbicara efektif merupakan sarana penyampaian ide kepada orang atau khalayak secara lisan dengan cara yang mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengarnya. Hal itu dapat terjadi jika pembicaraannya sistematis, benar, tepat dan tidak berbelit-belit dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar.
Dikutip dari buku Hendri Guntur Tarigan bahwa berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.
Berbicara juga dapat diartikan kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan informasi dengan efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi pembicaranya, disamping juga dapat mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar. Jadi, bukan hanya apa yang akan dibicarakan, tetapi bagaimana mengemukakannya. Bagaimana mengemukakannya, hal ini menyangkut masalah bahasa dan pengucapan bunyi-bunyi bahasa tersebut.
Kemampuan berbicara merupakan hal yang sangat penting, karena untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Berbicara merupakan  suatu perbuatan manusia yang bersifat individual, artinya tidak ada orang yang berbicara sama dalam memilih kata, tempo bicara, lagu bicara dan lain-lain.
Menurut Bambang Setyono (1998:19) mengungkapkan bahwa ”Bicara merupakan vokal-vokal dengan kekerasan yang bervariasi lama-kelamaan berkembang menjadi bunyi-bunyi yang lebih sempurna sesuai dengan kematangan fisik dan mentalnya”. Sedangkan menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984:31) ”Berbicara adalah suatu perbuatan manusia yang bersifat individual, artinya tidak ada orang yang berbicara sama dalam memilih kata, tempo bicara, lagu bicara dan lain-lain”.
Menurut Maidar G. Arsjad & Mukti U S (1988:17) adalah sebagai berikut: “Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan”.
Berbagai pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa bicara adalah suatu perbuatan dengan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dengan alat bicara untuk megekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicara.
B.    Dasar-dasar berbicara efektif
  Pada dasarnya berbicara efektif pada kesempatan apapun terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu pembukaan, isi atau inti permasalahan, dan penutup.
a. Pembukaan
Pembukaan adalah bagian awal dari setiap pembicaraan. Pembukaan termasuk bagian penting karena turut menentukan sukses tidaknya suatu pembicaraan. Bila pembukaan sudah berhasil menggugah minat dengar orang, maka kesuksesan pembicaraan sudah 50 % ada ditangan si pembicara. Sebaliknya, bila pembukaannya saja sudah membosankan, maka kegagalan penyampaian pesan dapat dikatakan sudah 90%, karena yakinlah bahwa pembicara akan diabaikan atau tidak akan diperhatikan oleh  pendengar.
Pembukaan seyogyanya dilakukan paling lama lima menit. Dan diharapkan waktu lima menit tersebut dapat memberikan kesan yang menyenangkan dan menarik minat bagi para pendengar sehinga para pendengar bersedia menyimak pembicaraan selanjutnya dengan seksama.
Pada acara formal, misalnya pidato, isi “Pembukaan” biasanya terdiri dari salam kepada orang/pejabat atau tokoh setempat yang hadir, ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan ulasan sekilas tentang masalah yang akan dibicarakan.
Pembukaan sebaiknya memuat common interest dari pendengar. Misalnya berbicara tentang hal-hal aktual yang sedang terjadi yang menjadi bahan pembicaraan yang hangat di masyarakat, walaupun mungkin tidak ada kaitannya dengan yang akan dibicarakan. Bisa juga disisipkan beberapa lelucon/anekdot segar yang dapat menggugah perhatian dan simpati orang. Alangkah baiknya apabila lelucon atau “penyegar” tersebut secara tidak langsung dapat disambungkan dengan inti masalah.
Bila kata pembukaan berhasil, perhatian pendengar secara halus dapat ditarik ke inti permasalahan. Pembukaan  pada setiap kesempatan pembicaraan sangat berbeda, tergantung pada misi, sifat, lawan bicara, dan suasana pembicaraan.
1) Misi Pembicaraan
Pembukaan dipengaruhi oleh misi pembicaraan. Yang dimaksudkan dengan misi pembicaraan di sini adalah tujuan pertemuan atau pembicaraan dan tugas yang dibebankan kepada si pembicara untuk disampaikan kepada hadirin
2) Sifat Pembicaraan
Pembukaan dipengaruhi oleh sifat pembicaraan, apakah serius, resmi, atau tidak sama sekali. Pembukaan di depan forum resmi, misalnya pertemuan atau rapat dinas yang dihadiri oleh pejabat kantor bersangkutan dan para pejabat pemerintah, sifatnya sangat formal yang biasanya akan mengikuti tatanan yang sudah baku dalam acara resmi. Dalam hal ini, pembukaan harus benar-benar mencerminkan keseriusan dari acaranya. “Pembukaan” pembicaraan atau pidato dapat disisipi “penyegaran” dengan sedikit humor, dan bisa dilakukan dengan santai tapi dengan tidak menghilangkan keseriusan acara.
3) Lawan Bicara
Lawan bicara turut menentukan “pembukaan” pembicaraan. Lawan bicara atau pendengar bisa dikategorikan dalam dua bahagian, yaitu kelompok atau perseorangan. Pembicaraan dengan perseorangan (seseorang), pembukaannya  biasanya lebih diwarnai dengan gaya yang sifatnya kekeluargaan, apalagi kalau keduanya sudah akrab. Namun apabila pembicara dengan lawan bicara belum akrab benar maka pembukaan disampaikan seperlunya hingga dirasa suasana sudah “hangat”, kemudian kita dapat masuk ke masalah inti yang akan disampaikan.
Berbeda jika pembicaraan dilakukan dihadapan banyak orang maka harus diperhatikan siapa siapa yang menjadi lawan bicara, pembukaannya harus ditujukan kepada semua hadirin.
Disamping itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: usia, status sosial, bahasa dari lawan bicara, karena ini berkaitan dengan adat kesopanan yang juga akan sangat menentukan minat dengar dari lawan bicara.
4) Suasana
Suasana juga ikut menentukan bagaimana pembukaan suatu pembicaraan. Baik isi maupun pola tutur bahasa bahkan nada bicara yang digunakan adalah sangat erat hubungannya dengan suasana yang berlangsung atau yang dihadapi oleh pembicara. Karenanya pembicara harus memahami betul suasana yang dihadapinya untuk memulai atau membuka suatu pembicaraan, apakah gembira, sedih, santai atau suasana yang lainnya. Pembukaan pembicaraan atau sambutan dan sejenisnya, pada suatu acara pemakaman jangan sampai disamakan seperti pada pembukaan acara ulang tahun, atau sebaliknya.

b. Isi/Inti Pembicaraan
Inti pembicaraan merupakan bagian paling pokok dalam pembicaraan. Bagian ini merupakan tujuan dari pembicaraan. Dalam bagian inilah rincian permasalahan akan dibahas.
Dalam acara-acara tertentu, misalnya diskusi, seminar, sarasehan, biasanya penyampaian inti permasalahan tidaklah perlu terlalu mendetail, melainkan hanya pada butir-butir pokoknya sajalah yang disampaikan. Penyampaian yang mendetail biasanya disampaikan dalam forum tanya jawab.
Isi pembicaraan harus dapat disampaikan secara lengkap dengan sistematis dan tidak berkepanjangan atau bertele-tele. Pembicara harus konsisten dengan inti permasalahan. Pembicaraan tidak boleh merambat ke hal-hal di luar permasalahan yang dibicarakan, terkecuali jika hal itu diambil sekedar sebagai referensi atau sebagai loncatan berfikir (itupun harus dibatasi dan dijaga jangan sampai berkembang lebih jauh). Untuk lebih memfokuskan perhatian pendengar dapat dibantu dengan presentasi yang menggunakan alat audio, visual atau audio visual.
Sesekali sisipkan anekdot atau guyonan penyegar suasana. Dan selanjutnya libatkan hadirin dalam permasalahan yang disampaikan, misalnya dengan melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan inti permasalahan. Cara seperti ini hampir selalu dapat mengikat perhatian pendengar sepanjang pembicaraan.
Perlu diperhatikan bahwa, sebaiknya lama pembicaraan tidak lebih dari satu jam per sesi. Pembahasan inti permasalahan dapat dilanjutkan lagi dalam forum tanya jawab. Setelah semua inti materi disampaikan, tiba saatnya untuk menutup pembicaraan.

c. Penutup
Pada akhir pembicaraan hendaknya diusahakan adanya kata-kata penutup yang dibuat sesingkat mungkin, paling lama tiga sampai lima menit. Dalam penutup dapat disampaikan kesimpulan atau rangkuman penting sebagai hasil pembicaraan itu.
Penutup biasanya diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada hadirin atas perhatian yang diberikan dan kepada penyelenggara apabila berbicara  pada suatu acara resmi. Dan terakhir sekali adalah ucapkan salam sebagai penutup pembicaraan.
C.     Faktor-faktor penunjang keefektifan berbicara

1.      Faktor kebahasaan
Menurut Maidar G Arsjad dan Mukti U S ( 1988:17 ), faktor-faktor kabahasaan yang menunjang kemampuan berbicara adalah sebagai berikut :
a). Ketepatan Ucapan
                       Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar, kebosanan dan kurang menyenangkan. Sudah tentu pula ucapan dan artikulasi yang kita gunakan tidak selalu sama, masing-masing mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaran, perasaan dan sasaran
b). Penempatan tekanan, nada, sendi dan durasi yang sesuai
           Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Bahkan kadang-kadang merupakan faktor-faktor penentu walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai. Akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar-datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
c). Pilihan kata /Diksi

           Dalam pemilihan kata hendaknya tepat, jelas dan bervariasi: jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar, misalnya kata-kata populer tertentu lebih efektif dari pada kata-kata muluk-muluk. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi. Selain itu hendaknya pilih kata-kata yang konkret sehingga mudah dipahami pendengar.
d). Ketepatan sasaran pembicara
           Semua ini menyangkut kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Susunan penuturan kalimat ini sangat besar pengaruhnya terhadap keefektifan penyampaian. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan atau menimbulkan akibat.
                  Kalimat yang efektif mempunyai ciri-ciri kebutuhan, pertautan, pemusatan perhatian dan kehematan. Kebutuhan kalimat jika setiap kata betul-betul merupakan bagian dari sebuah kalimat, bisa juga rusak karena ketiadaan subjek atau adanya kerancuan. Pertautan pertalian dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dengan kata, frase dengan frase dalam sebuah kalimat. Hubungan harus jelas dan logis. Pemusatan perhatian dalam kalimat dapat ditempatkan pada bagian awal atau akhir kalimat. Selain itu kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata sehingga kata yang tidak berfungsi perlu disingkirkan.
2.      Faktor nonkebahasaan
Menurut Maidar G Arsjad dan Mukti U S (1988:20-22), keefektifan berbicara tidak hanya didukung oleh faktor kebahasaan, dalam proses belajar mengajar berbicara, sebaiknya faktor nonkebahasaan ini ditanamkan terlebih dahulu, sehinga kalau faktor non kebahasaan sudah dikuasai akan memudahkan penerapan faktor kebahasaan.
Yang termasuk faktor nonkebahasaan adalah sebagai berikut :
a). Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku.
      Sikap yang wajar oleh pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi. Penguasaan materi yang baik, akan menghilangkan kegugupan dan sikap ini juga memerlukan latihan.
b). Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara.
      Banyak pembicara kita saksikan berbicara tidak memperhatikan pendengar, tetapi melihat keatas, kesamping, atau menunduk. Akibatnya perhatian pendengar berkurang. Hendaknya diusahakan supaya pendengar merasa terlibat dan diperhatikan.
c). Kesediaan menghargai pendapat orang lain.
      Seorang pembicara hendaknya dalam menyampaikan isi pembicaraan memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat pihak, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru. Selain itu juga harus mampu mempertahankan pendapatnya yang mana mengandung argumentasi yang kuat dan betul-betul diyakini kebenarannya.
d). Gerakan-gerakan dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal yang penting selain mendapat tekanan, biasanya juga dibantu dengan gerak tangan atau mimik hal ini dapat menghidupkan komunikasi. Tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara sehingga kesan kurang dipahami.
e). Kenyaringan suara juga sangat menentukan.
      Tingkat kenyaringan ini disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar dan akustik tetapi perlu diperhatikan jangan berteriak. Kita antara kenyaringan suara kita supaya dapat didengar oleh semua pendengar dengan jelas, dengan juga memuat kemungkinan gangguan dari luar.
f). Kelancaran
      Kelancaran berbicara akan memudahkan pendengaran menangkap isi pembicaraannya. Selain itu berbicara yang terputus-putus bahkan menyelipkan bunyi ee, oo, aa dapat mengganggu penangkapan pendengaran, dan sebalikya pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar menangkap pembicaraanya.
g). Relevansi atau Penalaran
      Proses berfikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah logis yang meliputi berbagai gagasan. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
h). Penguasaan topik
      Dalam pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Pengusaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi penguasaan topik ini sangat penting bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara.
D.    Hambatan berbicara efektif
1.      Terlalu banyak pengulangan kata
2.      Tempo bicara yang cepat
3.      Teknik yang buruk
4.      Mengkopi pembicaraan orang lain
5.      Tidak jelas (artikulasi, relevan suku kata)
6.      Terlalu banyak eu, a, euh...
7.      Tekanan yang salah atu buruk pada kata-kata
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
B.     Saran
Sejalan dengan simpulan diatas penulis merumuskan saran sebagai berikut :
1.      Seorang pelajar mahasiswa dan para profesional serta masyarakat umumnya perlu menyadari akan pentingnya mengetahui dan menyadari akan pentingnya keefektipan dalam berbicara. Agar kita terbiasa menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam berbicara serta dapat menempatkan sesuai dengan situasi dan kondisi ;
2.      Mempelajari berbagai faktor penunjang keefektipan berbicara ;
3.      Memahami pentingnya memiliki kemampuan keefektipan dalam berbicara ;
4.      Merealisasikan berbicara yang efektif didalam kegiatan berkomunikasi sesuai dengan situasi dan kondisi ;
5.      Dapat menggunakan makalah ini sebagai pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan berbicara yang efektip khususnya bagi kita sebagai mahasiswa yang dituntut untuk mampu mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

2 komentar:

  1. Terima kasih atas postingannya. Sgt membantu dlm mengerjakan tugas.

    BalasHapus
  2. Thanx da posting ilmu yg sangat mmbantu

    BalasHapus